00
Kebun kopi berkabut saat fajar
Ritus Sangrai — Kopi Nusantara

Setiap cangkir punya ritusnya.

Kami meracik biji dari kebun kecil Nusantara — dipanen tangan, disangrai per batch, diseduh tanpa tergesa.

Gulir untuk memulai cerita
Bali, IndonesiaBatch kecil — 12 kg
Bab I Cerita di balik kami

Bermula dari
satu sapi dan
satu kardus biji.

Tahun 2019, kami kembali ke desa di kaki Gunung Agung membawa kardus biji toraja curahan dari kerabat. Tidak ada mesin sangrai — hanya wajan besi, kayu bakar, dan telapak tangan yang belajar mendengar letupan pertama.

Tahun kedua kami membeli drum sangrai bekas cat. Tahun ketiga kami berhenti menjual ke tetangga dan mulai menjual ke seluruh Indonesia. Yang tidak berubah: setiap batch tetap 12 kilogram, tetap dicatat dengan tangan, tetap dibuang kalau tidak lolos cicip.

0tahun ritual
0kg per batch
0kebun mitra
Petani kopi memilih ceri merah matang
Bab II Perjalanan kopi di dunia

Sebelum jadi
rutinitas, kopi
dulu mitos.

abad ke-9

Kaldi dan kambingnya

Seorang gembala di Ethiopia menemukan buah merah yang membuat kambingnya begadang. Ia mencobanya, dan malam pun tidak lagi sepi.

abad ke-15

Yaman & Sufi

Kopi dibudidayakan di Yaman, diseduh dalam ritual malam dzikir. Dari kedai kopi Aden, kopi dikenal sebagai "anggur Arab".

1554

Konstantinopel

Kopi tiba di Turki Ottoman dan membuka kedai kopi pertama di luar dunia Arab. Kafe jadi ruang debat, sastra, dan catur.

1652

London

Kedai kopi pertama Eropa lahir. Pedagang, penulis, dan ilmuwan berkumpul — "panggung intelektual" baru dunia.

1696

Preanger, Jawa

Bibit kopi dari Malabar, India ditanam di Jawa Barat. Dari sinilah Nusantara masuk ke dalam sejarah kopi dunia.

kini

Batch kecil

Ritus berpindah dari istana ke pabrik ke dapur. Kami mengembalikannya ke ukuran yang bisa dijaga: 12 kilogram, tangan yang sama.

Sangrai kuningan antik di atas meja kayu gelap
Bab III Tiga langkah, tanpa jalan pintas
Ceri kopi dipetik tangan
01 — Panen

Dipetik yang merah,
yang hijau dibiarkan.

Selective picking. Hanya ceri matang penuh yang masuk keranjang, supaya gula di dalam daging buah sudah sempurna sebelum kering.

Drum sangrai dengan bara
02 — Sangrai

12 kg, 11 menit,
satu telinga.

First crack jadi patokan, bukan termometer. Setiap batch dicicip dingin keesokan harinya — kalau pahit berasap, batch dibuang.

Seduh pour over
03 — Seduh

Air 92°, tuang
melingkar, tunggu.

Rasio 1:15, blooming 30 detik. Bukan resep rahasia — hanya kesabaran yang jarang dilakukan orang di rumah.

Bab IV Empat karakter, satu ritual

Empat biji yang
paling sering
diminta.

Kemasan Ritus Sangrai varian Toraja
Gunung

Toraja Sapan

Full natural. Badam, gula aren, tuba tipis di akhir. Berat, jadi teman pagi buta.

Kemasan Ritus Sangrai varian Gayo
Dataran tinggi

Gayo Bener Meriah

Wine process. Cokelat hitam, plum, rempah kering. Kekar dan panjang di lidah.

Kemasan Ritus Sangrai varian Flores
Pulau

Flores Bajawa

Honey process. Jeruk manis, madu, kayu manis. Paling ramah untuk pemula.

Kemasan Ritus Sangrai varian Preanger
Sejarah

Preanger 1696

Washed heirloom. Karamel, kacang mede, susu. Homage ke bibit pertama Jawa.

Bab V Mereka yang sudah ikut ritual

"Saya kira 'brew di rumah enak' itu gimmick. Setelah pakai Flores Bajawa, mesin kantor saya jarang dipakai."

Raka W.Bandung — pelanggan sejak 2021

"Batch-nya ditulis tangan, tanggal sangrainya jelas. Sepele, tapi bikin percaya."

Nadia P.Surabaya — kafe kecil

"Preanger 1696 itu kopi langganan ayah saya waktu di kantor. Rasanya memang beda yang dijual sekarang."

Yosef T.Yogyakarta
Bab VI Ambil pulang

Toko

Semua biji disangrai setelah pesanan masuk — 2–3 hari sampai ke pintu kamu.

Toraja Sapan

Toraja Sapan

200 g — natural
Rp128.000
Gayo Bener Meriah

Gayo Bener Meriah

200 g — wine
Rp135.000
Flores Bajawa

Flores Bajawa

200 g — honey
Rp118.000
Preanger 1696

Preanger 1696

200 g — washed
Rp110.000

Sample Set

4 × 50 g — semua varian
Rp89.000

Set Seduh V60

Dripper + 100 filter
Rp175.000